Jujur saja, sejak terjadinya kecelakaan di Tugu Tani – Jakpus, saya langsung trauma. Ada perasaan takut untuk keluar rumah. Pada akhirnya saya memilih tinggal dirumah beberapa hari. Benar-benar ngeri kalau hal itu menimpa pada saya. Walau memang kematian sesungguhnya penuh dengan misteri. Tak bisa di tebak.
Kalaupun saya berada di jalan, mata saya begitu awas melihat sekitar. Apalagi pas naik motor di jalan raya. Saya selalu diselimuti rasa nggak enak. Efek kekhawatiran membuat saya tegang menyetir motor. Kita tidak akan tau ada pengendara yang sedang mabuk, atau emang gila ngebut-ngebutan sampai akhirnya kebetulan kita berada di depannya dan si pengendara menabrak kita. Wew… benar-benar mati konyol.
Saya selalu pakai motor setiap pergi ke kampus, daerah perkotaan tentu ramai dengan para pengemudi. Hal yang paling saya takuti ketika berpapasan maupun sejajar dengan truk besar dan bus di jalan raya, karena tak jauh dari kampus, memang dekat dengan terminal. Jadi, tak heran bus-bus sering berseliweran di jalan.
Dan itulah yang membuat saya jengkel. Iya, saya selalu dibuat jengkel sama mobil-mobil besar. Mereka nggak mau ngalah sama jalan, maunya berada di depan dan pengen cepat-cepat sampai. Akhirnya, saya mengalah dan mengendarai motor ke pinggir jalan. Membiarkan mereka mendahului saya. Bahkan saya selalu mengalah. Saya benar-benar takut melawan laju kecepatannya.
Tak hanya itu, saya pualing geram melihat orang yang sedang berkendara, terutama yang sering saya lihat ketika di pengendara motor mengetik SMS maupun menelphone seseorang yang diselipkan dalam helmnya. Rasanya pengen saya labrak dan klakson terus sampai brenti menelphone. Bagaimana pun hal itu sangat membahayakan dirinya dan disekitarnya.
Sok ngartis. Sok penting telephone di jalan sambil mengemudi kendaraan. Hal yang memalukan ketika semobil sama Nathalia mahasiswa dari Brazil. Dia sehabis pulang dari kampus saya. Nah, waktu itu lampu merah, otomatis langsung berhenti, tapi tiba-tiba kendaraan lain tuh pada nyalip didepan mobil kita, malah melebihi garis para pejalan kaki. Si Nathalia langsung pasang wajah heran.
Ketika lampu hijau menyala, tepatnya dari arah belakang tiba-tiba para pengemudi saling mengklakson gitu sambil rebutan untuk jalan ke depan. Padahal baruuuuu aja lampu hijau, dari belakang tuh motor, mobil, bus mengklakson Tin Tin Tin… emang buru-buru kemana sih? Bisa tidak ya kita ini tertib. Budayakan hidup antri. Nggak usah saling serobot. Toh nanti sampai juga ke tempat tujuan.
Hadeh… malu banget. Si Nathalia nanya-nanya kenapa? Ada apa? Budaya jeleknya keluar deh. Kalau gini, saya bingung jawab apa. Saya tahu setiap orang punya kesibukan sendiri, ingin cepat-cepat sampai, tapi setidaknya kalau di jalan raya jangan pakai acara mengklakson gitu (norak), mana pake acara ngebut segala, kurangilah kecepatan, lihat sekitar dan patuh lalu lintas.
Semoga kedepanya para pengendara lebih hati-hati dan tidak ada lagi yang namanya kebut-kebutan. Apalagi berkendara sabil mabuk. Saya muak dengerin bunyi mesin motor yang ngebut-ngebutan. Jelek banget tuh bunyi. Ngebut-ngebutan itu nggak keren. Kalau mau ngebut-ngebutan kenapa nggak menyalurkan hobi kita di lapangan balap motor/mobil? Tul, nggak? Lebih aman lagi. Kalaupun punya bakat, bisa saja kita juara balap seperti pembalap-pembalap lainnya.
Thanks for reading & sharing nonton online




0 komentar:
Posting Komentar